Selamat Datang, Semoga Bermanfaat

Sunday, 6 March 2011

MEMPERHATIKAN ALAM SEBAGAI SARANA untuk LEBIH MENGENAL TUHAN

MEMPERHATIKAN ALAM SEBAGAI SARANA
untuk LEBIH MENGENAL TUHAN

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. an-Naml [27]: 88)

Merapi masih menjadi ancaman bagi sebagian masyarakat disekitar aliran sugai yang berhulu di Merapi. Setelah awan panas yang memimbulkan berpuluh-puluh korban jiwa dan menghancurkan daerah- daerah sekitar lereng gunung, kini Merapi kembali hadir dengan membawa lahar dinginnnya. Akibat dari lahar dingin ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, namun juga menyebabkan kerugian materi yang amat besar serta menenggelamkan daerah yang dilaluinya.

Sebagian kita mungkin menyangka bahwa gunung yang kita lihat dan kita kagumi karena keindahan dan kekokohannya adalah benda mati seperti halnya batu, besi dan sebagainya. Hal ini pulalah yang diyakini oleh nenek moyang kita sejak dulu. Namun seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan (science) dan tekhnologi, para Ilmuan telah menemukan keajaiban baru tentang bergeraknya gunung. Dan yang lebih mengagumkan adalah, al- Qur’an yang diyakini sebagai kitab suci oleh umat islam telah menunjukkan mengenai hal ini sejak 1432 tahun yang lalu dalam surat an- Naml ayat 88 seperti yang telah kami sebutkan diatas. Dalam ayat tersebut, Allah telah menyebutkan tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah continental drift atau gerakan mengapung dari benua. Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi. Pergerakan gunung tidak bisa kita lihat secara lansung, karena dalam pergerakannya sangat dipengaruhi oleh pergerakan kerak bumi. Namun untuk membuktikannya dapat kita lihat dari berubahnya posisi gunung dari waktu kewaktu.

Bila kita gali lebih dalam, ayat diatas mengingatkan kita agar lebih memperhatikan(tadabbur) alam sekitar kita. Hal yang terkadang dianggap remeh dan lumrah ternyata memiliki kelebihan dan keutamaan. Sehingga Rasulullah memerintahkankan kita untuk memikirkan serta memperhatikan makhluk Allah. Seperti dalam sabdanya “tafakkaru fii kholq Allah, walaa tafakkaruu fi dzat Allaah,( Berfikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan berfikir akan zat Allah )”. karena dengan memikirkan serta mempelajari ciptaan Allah maka secara tidak lansung kita akan mengetahui siapa pencipta itu semua

Proses Terbentuknya Gunung
Gunung-gunung di bumi terbentuk akibat pergerakan dan tubrukan antar-lempengan raksasa yang membentuk lapisan kerak bumi . Ketika dua lempengan saling bertubrukan, salah satunya biasanya akan menerobos di bawah lempengan yang kedua. Lempengan kedua yang berada bagian atas terdorong ke atas sehingga membentuk punggung gunung. Pada saat bersamaan, lempengan yang berada di bawah terus menembus, menghujam ke bawah, dan membentuk perpanjangan yang jauh ke dalam bumi. Ini berarti gunung memiliki semacam akar berupa perpanjangan yang menancap dan menghujam ke dalam bumi. Bagian ini sama besarnya dengan punggung gunung yang tampak menjulang tinggi di atas permukaan bumi. Dengan kata lain, gunung tertancap dan mengakar kokoh pada bagian kerak bumi yang disebut jaket(mantle)
.
Jadi, gunung mencengkeram lempengan-lempengan bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi. Dengan demikian gunung menembus dan menancap pada tempat bertemunya lempengan-lempengan tersebut. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Fungsi Gunung
Fungsi pertama dari gunung adalah menjaga keseimbangan bumi. Dengan menancapnya gunung dilempeng bumi, gunung mencegah kerak bumi bergerak atau bergeser secara terus-menerus di atas lapisan magma atau di antara lapisan-lapisannya. Jika tidak ada perangkat yang mengendalikan pergerakan kerak bumi ini, maka goncangan dan gempa terus-menerus akan terjadi di bumi, yang tentu menjadikannya tempat yang benar-benar tak dapat dihuni. Namun, dengan keberadaan gunung-gunung dan struktur perpanjangannya yang menghujam jauh kedalam bumi berperan besar mengurangi pergerakan lapisan di bawah permukaan tanah, sehingga mencegah atau memperkecil goncangan yang diakibatkannya. Hal ini sesuai juga dengan firman Allah dalam al- Qur’an surat al- Anbiya[21] ayat 31
وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجاً سُبُلاً لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”
Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa terdapat kolerasi yang sangat erat antara firman Allah dengan ilmu pengetahuan(science). Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan memang diciptakan untuk mengungkap keberadaan Allah. Manusia yang mau berfikir dengan menggunakan akal jernihnya tentu akan menerima kebenaran ini tanpa ada keraguan sedikitpun. Fungsi gunung yang kedua adalah penyebaran panas. Perbedaan suhu antara khatulistiwa dan wilayah kutub bumi adalah sekitar 100oC. Jika perbedaan suhu tersebut terjadi di permukaan bumi yang rata, maka ini akan memunculkan aliran udara berupa badai angin sangat kencang berkecepatan hingga 1000 km (621 mil) per jam yang akan menghancurkan bumi. Namun, permukaan bumi yang tidak rata mampu menahan aliran angin kencang yang dimunculkan oleh perbedaan suhu ini. Dan masih banyak lagi fungsi gunung yang lain.

Kewajiban Manusia untuk Menjaga Alam
Allah telah menciptakan manusia sebagai pemimpin (khalifah) di dunia. Tujuan dijadikannya manusia sebagai pemimpin adalah agar manusia mau menjaga alam ini serta menggunakan semua yang telah Allah berikan sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya. Namun yang terjadi saat ini adalah sebaliknya, saat ini manusia mengeksploitasi bumi hanya untuk memenuhi keserakahan dan hawa nafsunya. Maka wajarlah bila saat ini terjadi pemanasan global (global warning) yang mengakibatkan terjadinya musibah di seluruh bagian di dunia. Seperti banjir bandang di Australia, hujan salju parah di kawasan eropa dan khususnya banjir dibeberapa wilayah dinegara kita tercinta ini.
Sebagai pemimpin( khalifah) di bumi, manusia harus bisa belajar dari gunung. Dalam salah satu hadis kudsi dinyatakan bahwa sebelum Allah menjadikan manusia, Allah pernah menawarkan kepada gunung untuk menjadi khalifah di bumi ini. Namun gunungpun menolak karena mengetahui betapa besar tanggungjawab yang harus diemban. Sampai akhirnya Allah menjadikan manusia sebagai khalifah. Dari hadis Qudsi itu, kita harus sadar bahwa menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang dan sepele. Karena sekecil apapun perbuatan baik yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan. Begitupula sebaliknya, sekecil apapun kejahatan atau keburukan yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasannya
.
Epilog
Manusia dengan segala kelebihannya memiliki potensi yang amat besar untuk menemukan kebenaran Illahi dengan memperhatikan dan mempelajari segala sesuatu yang ada di alam ini. Namun banyak manusia yang malah terperosok dalam jurang kebodohan dan kegelapan , sehingga menjadikan potensi itu menjadi hal negatif yang menimbulkan berbagai persoalan dan permaslahan. Banyak manusia yang tidak memberikan kontribusi sosial bagi masyarakat, namun malah menjadi beban dan penyakit di masyarakat . Banyak manusia yang tidak menjaga alam ini, namun malah merusaknya demi pemenuhan nafsu duniawi. Al- Qur’an telah memberikan peringatan bawa kerusakan yang terjadi di dunia bukanlah karena bumi yang semakin tua atau faktor alami , namun kerusakan yang terjadi disebabkan tangan- tangan jahil manusia. Sebagaimana firman Allah
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. arruum [30]: 41)
Seperti ciptaan Allah yang lain, gunungpun memiliki keistimewaan sendiri. Gunung yang kita sangka sebagai benda mati yang hanya diam ditempat, ternyata bisa begerak seperti halnya berjalannya awan diatas lagit. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menciptakan sesuatu apapun dengan sia-sia. Sebagaimana seluk-beluk dan bagian bumi yang lain, apa yang ada pada gunung merupakan bagian dari kekuatan, kehebatan dan kesempurnaan ciptaan Allah dan tugas kita hanyalah menjaganya serta menggunakan semua fasilitas yang telah diberikan ini sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya. “ Fabiaiiyiaalaa Robbuka tukaddzibaan (Maka nikmat Allah manakah yang kau dustai)” . Wallahu a’lamu bi ash-shawab.

Sukron Tamimi
Mahasiswa Hukum Islam UII
Angkatan 2009

Mutiara Hikmah
“Demi Zat(Allah) yang diriku ada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah sempurna iman seorang hamba sehingga dia mencintai tetangganya sebagaimana dia mencintai dirinya sndiri”( HR. Muslim)

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites