Wafat dan Kebangkitan Isa al-Masih bin Maryam

 
 Wafat dan Kebangkitan Isa al-Masih bin Maryam

“Orang-orang yang mereka seru selain Allah tak dapat menciptakan sesuatu apapun, sedang mereka sendiri diciptakan; mereka mati tidak hidup, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan” (Q.S. 16:20-21)

Para Nabi Utusan Allah telah wafat
Ayat suci tersebut berlaku bagi semua orang dan semua Nabi Utusan Allah, termasuk Nabi Isa Almasih bin Maryam. Meski beliau pernah menyatakan kepada kaumnya: ”Selamat sejahtera atas aku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (19:33), beliau tak tahu kapan dan dimana dimatikan dan kapan dibangkitkan hidup kembali
.
Quran Suci menjelaskan bahwa tatkala Adam masih di Sorga diberi tahu Ilahi ”di bumi kamu hidup dan di bumi itu kamu mati dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan” (7:25). Mengapa hidup harus di bumi, bukan di langit? Karena di bumilah manusiA menmperoleh penghidupan, ma’ayisy (7;11).
Para Nabi Utusan Allah adalah manusia biasa, yang Allah ”jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal” (21:8), termasuk Nabi Isa Almasih bin Maryam. Tatkala Nabi Suci wafat, Umar bin Khathab berdiri di Masjid Nabawi dengan pedang terhunus di tangan dan mengatakan, ”barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad saw. telah wafat, aku penggal batang lehernya.” Lebih lanjut beliau menyatakan, ”Beliau tidak wafat, hanya pergi kepada Tuhannya, seperti halnya Nabi Musa a.s. pernah pergi kepada Tuhannya dan menghukum orang-orang munafik.” Sayidina Abu Bakar yang telah menyaksikan Nabi Suci terbaring telah wafat. Beliau lalu masuk Masjid menyuruh Umar duduk, dan beliau memberikan wejangan kepada segenap kaum Muslimin yang berada di Masjid. Dalam wejangan singkatnya membawakan ayat suci Al-Qur’an yang artinya:” Muhammad tiada lain hanyalah seorang Utusan, sesungguhnya telah berlalu para Utusan sebelumnya. Maka, jika ia mati atau terbunuh, akan berpalingkah kamu atas tumitmu?” (3:144).

Yang dimaksud ”telah berlalu (khalat) adalah wafat. Saat itu tak ada seorang pun yang membantah Sayidina Abu Bakar, berarti mereka sependapat bahwa Nabi Suci telah wafat seperti para Nabi terdahulu. Peristiwa menyedihkan ini terjadi pada hari Senin 12 Rabi’ul-awal 11 H (8 Januari 632M). Peristiwa tersebut mengandung petunjuk tentang ”Ijmak Sahabat” tentang telah wafatnya para Nabi Utusan Allah SWT, tanpa kecuali.

Wafat dan makam Nabi Isa a.s.
Jika demikian Nabi Isa a.s. pun telah wafat, karena di dalam Quran Suci juga dinyatakan ”Almasih bin Maryam tiada lain hanyalah seorang Utusan, sesungguhnya telah berlalu sebelumnya para Utusan, dan ibunya seorang yang sangat benar, keduanya memakan makanan” (5:75). Meski penegasan ”telah berlalu (khalat)” artinya ”telah wafat,” namun demikian banyak alim ulama Islam yang berpendapat, bahwa Nabi Isa Almasih hidup di langit sampai sekarang. Pendapat ini bukan hanya bertentangan dengan Quran Suci, Hadits Nabi dan Ijmak sahabat saja, melainkan pula mendukung dogma Gereja Kristen yang menyesatkan (Pengakuan Iman Rasuli ke-5, 6 dan 7).

Mereka berpendapat demikian karena kata tawaffa yang artinya mematikan, mencabut, menyempurnakan jika obyeknya Nabi Isa a.s. tidak mereka artikan mematikan atau mencabut nyawa, melainkan mereka artikan mengambil seperti menerjemahkan kata itu dalam ayat 6:60 dan 39: 42. Arti dalam kedua ayat itu benar, karena ada penjelasan lail dan manam artinya malam dan tidur, jadi yang diambil adalah nyawa atau ruhnya pada waktu malam atau tidur. Jika kata tawaffa diartikan mengambil dalam arti memindahkan tubuh dan ruh manusia dari satu tempat ke tempat lain adalah salah. Maka dari itu firman Allah, ”ya ’isa inni mutawaffika” mereka artikan ”wahai Isa sesungguhnya Aku akan mengambil engkau” adalah salah : arti yang benar sbb: ”wahai Isa sesungguhnya Aku akan mematikan engkau,” arti ini sesuai dengan arti kata tawaffa dalam 22 ayat lainnya. Inkonsistensi terjemah itu mengakibatkan mereka dan umat terjebak dalam nashraniyat, yaitu ajaran Kristen yang masuk ke dalam Islam.

Sebenarnya dalam susunan kalimat seperti itu dimana Allah SWT sebagai subyek dan manusia obyeknya tak ada arti lain, kecuali ”mematikan”. Jadi firman Allah mutawaffika itu mengandung petunjuk bahwa Allah SWT berjanji akan mematikan beliau secara wajar, tidak disalib atau dengan kata lain Allah berjanji akan menyelamatkan Nabi Isa a.s. dari upaya kaum Yahudi yang berusaha membunuh beliau secara keji, disalib, suatu kematian yang terkutuk. Janji Allah itu dipenuhi pada hari Jumat 7 April 30M. Sekitar pukul 15.00 waktu setempat, dengan cara Allah pingsankan Nabi Isa a.s. yang menurut penglihatan mereka yang berupaya menyalibkan beliau, nampaknya beliau telah mati, padahal hanya syubbiha, diserupakan telah mati saja.
Pasca penyaliban, yang gagal, Nabi Isa a.s. setelah sembuh luka-lukanya akibat dari upaya penyaliban, beliau tetap melaksanakan tugas suci menggembalakan domba-domba Israel yang tersesat di luar kandang Palestina. Di sanalah beliau mengemban amanat Ilahi sampai akhir hayatnya. Beliau wafat secara wajar dalam usia lanjut, 120 tahun, sesuai dengan nubuat Nabi Musa dalam Taurat (Kej. 6:3) dan Nabi Yesaya (Yes 53:9-10). Nabi Suci Muhammad saw. pun bersabda bahwa Nabi Isa a.s. berusia 120 tahun (H.r. Thabrani). Makamnya terdapat di Kasymir, suatu wilayah yang cocok dengan lukisan dalam Quran Suci” ”Dan Kami menjadikan Ibnu Maryam dan Ibunya sebagai tanda bukti, dan Kami mengungsikan dua-duanya ke tanah tinggi yang mempunyai padang rumput dan mata air” (23:50). Jadi masa kenabian Isa Almasih terdiri dari dua periode, yaitu: Pertama, selama tiga tahun berdakwah di kandang Palestina yang dalam Quran Suci dilukiskan ”ia akan berbicara tatkala masih dalam buaian” (3:46) yang berakhir dengan terjadinya penyaliban. Kedua, periode pasca penyaliban sampai akhir hayat beliau selama 27 tahun, beliau berdakwah di luar kandang Palestina.

Kebangkitan Nabi Isa. a.s.
Quran Suci mengabdikan ucapan Nabi Isa a.s. kepada kaumnya: ”Selamat sejahtera atas aku pada hari aku dilahirkan dan pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (19:33). Ayat ini oleh sementara pendeta Kristen digunakan sebagai dalil, bahwa Isa Almasih mati disalib dan hidup kembali atau bangkit kembali pada hari ketiga. Ini penafsiran yang salah, sebab maksud ayat itu justru membantah dogma sentral Gereja Kristen ”Yesus Kristus mati disalib”, karena pernyataan, ”selamat sejahtera atas aku........pada hari aku meninggal,” mengandung petunjuk bahwa beliau tak mengalami kematian terkutuk di tiang salib. Selama tergantung di tiang salib, maut tak pernah mendatangi beliau. Demikian pula tentang kebangkitannya pada hari ketiga, juga terbantah oleh ayat itu, sebab tentang hari itu tak ada seorang pun yang tahu (16: 20-21), termasuk Isa Almasih, sebagaimana dinyatakan pula dalam Perjanjian Baru beliau menyatakan: ”tetapi tentang hari atau saat itu tidak ada seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di Sorga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja” (Mrk. 13:32; Mat 24:36).

Pengakuan Iman Rasuli ke-5 lengkapnya sbb: ”pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati” adalah doktrin yang paling rancu diantara ke-11 doktrin lainnya, bahkan diantara doktrin-doktrin keagamaan di dunia, sebab jika ”kebangkitan” itu dipahami ”hidup kembali (revival)” salah, dan jika dipahami ”kebangkitan kembali (resurrection)” juga salah. Alasannya sbb:
Hidup kembali (revival) berarti kembalinya seluruh fungsi vital tubuh manusia setelah mati. Definisi mati secara medis, tanpa mengabaikan aspek – aspek moral, etika dan hukum menurut Dewan Organisasi-organisasi Ilmu Pengetahuan Kedoketran di Jenewa sbb: ”Kematian itu terjadi apabila fungsi otak (cerebral) terhenti seluruhnya dan tidak bisa dikembalikan lagi.” Penghentian itu ditentukan oleh lima kriteria, yaitu: (1) Lenyapnya semua tanggapan (response) terhadap lingkungan. (2) Hilangnya secara menyeluruh gerak refleks dan kedutan otot. (3) Terhentinya pernapasan secara mendadak. (4) Berkurangnya secara menyolok tekanan darah pada urat nadi (arterial blood pressure) apabila tidak dibantu secara artifisal. (5) Penjejakan secara mutlak garis elektro-ensephelo-grafis berdasarkan kondisi-kondisi teknis terbaik, kendatipun dengan memberikan perangsang (stimulation) terhadap otak (Masa Kini, 25 April 1980).

Definisi tersebut selaras dengan Kitab Suci, baik Bibel maupun Quran Suci, bahwa orang yang telah mati tidak mungkin hidup kembali (revival) ke dunia (Ayb 7: 9-10; 2 Sam 12: 22-23; Q.S. 21: 95; 23:100). Jika Yesus Kristus pada hari Jumat 7 April 300 M. sekitar pukul 15.00 waktu setempat wafat, ruh beliau dicabut oleh Allah SWT yang akibatnya fungsi otak (cerebral) beliau terhenti total tidak mungkin 38 jam kemudian, yakni pada hari Ahad dini hari ruh beliau dikembalikan ke dalam tubuh beliau.

Jika beliau wafat pada hari Ahad itu tubuh beliau tentu telah membusuk. Padahal faktanya tubuh beliau tidak membusuk, dan yang dibangkitkan bukanlah tubuh rohaniah yang tanpa ruh sebagaimana ditulis oleh Paulus dalam 1 Kor 15: 45, karena bilur-bilur akibat cambukan, luka-luka akibat penyaliban pada tangan dan kaki beliau jelas nampak dan dilihat oleh para murid beliau, bahkan beliau juga makan sepotong ikan goreng dihadapan mereka (Luk 24: 37- 43). Ini membuktikan bahwa beliau tatkala diturunkan dari tiang salib belum wafat, hanya serupa telah wafat saja.
Jadi beliau tidak ”hidup kembali (revival)” pada hari ketiga, melainkan hanya ”selamat atau bertahan hidup (survival)” pada hari itu sebagaimana telah dinubuatkan oleh para Nabi sebelumnya dan Allah janjikan langsung kepada beliau ”ya ’isa inni mutawaffika warafi’uka ilayya (wahai Isa sesungguhnya Aku akan mematikan engkau dan mengangkat engkau ke hadapan-Ku” (3: 55).

Selanjutnya tentang ”kebangkitan kembali (resurrection)” yang menjadi salah satu doktrin pokok agama samawi, bagaimana caranya? Paulus menjelaskan, ”yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah” (1 Kor 15: 44) ”yang tak dapat binasa dan ..yang tidak dapat mati” (1 Kor 15: 53-54). Kebangkitan itu pasti terjadi, kapan datangnya? Tak ada seorang pun yang tahu; orang-orang yang dipertuhan pun tidak tahu (16:21), termasuk Isa Almasih (Yesus Kristus), hanya Allah sendirilah yang mengetahuinya, sebagaimana beliau nyatakan dalam Mat 24: 36 dan Mrk 13:32.

Jadi kebangkitan beliau pada hari ketiga bukanlah kebangkitan dalam tubuh rohaniah, melainkan bangkit dengan tubuh jasmaniah yang dapat binasa, yang memerlukan makanan dan minuman, yang bisa dijamah oleh orang lain dan juga dianiaya oleh para pendosa. Perjanjian baru pun memberikan kesaksiannya dalam masalah ini, misalnya:
1. Pada hari ketiga, tatkala kubur ditengok tampaklah batu penutup pintu kubur sudah tergeser dari lubang pintu (Mrk 16:14), berarti beliau bangkit secara wajar dengan badan jasmani.
2. Para murid beliau pasca hari ketiga melihat beliau dengan badan jasmani yang sama dengan luka-luka bekas upaya penyaliban (Luk 24: 39-40).
3. Tomas dipersilahkan melihat luka di tangan beliau dan dipersilahkan mencucukkan jari tangannya pada luka di lambung akibat tikaman tombak lasykar Romawi (Yoh 20:27).
4. Beliau makan sepotong ikan goreng di depan para muridnya (Luk 24:42-43). Makanan badan rohani bukan ikan goreng, tetapi firman yang keluar dari mulut Allah (Mat:4:4).
5. Jika beliau bertemu dengan murid-muridnya secara sembunyi-sembunyi dan juga menyamar agar tidak diketahui atau dikenali oleh orang-orang Yahudi (Luk 24:40-43). Hal ini menunjukkan bahwa beliau berupaya menyelamatkan diri. Jika kebangkitannya dengan badan rohani yang tak kenal kematian mengapa sembunyi-sembunyi?

Dari uraian di atas teranglah bahwa (1) Nabi Isa bin Maryam tidak mati disalib, tatkala diturunkan dari tiang salib beliau hanya dalam keadaan koma berat atau mati suri saja, yang dalam Quran Suci dinyatakan dengan kalimat syubbiha lahun; (2) kebangkitan beliau pada hari ketiga bukanlah kebangkitan dengan badan rohani yang terbentuk dari amal semasa hidupnya di dunia, melainkan bangkit dengan badan jasmani secara wajar. Jadi bukan bangkit dari maut atau ”dari antara orang mati” karena beliau belum mengalami kematian.
 
Sumber: http://samianyasir.blogspot.com/search/label/Kristianologi%20Qur%27ani

0 comments:

Post a Comment