Selamat Datang, Semoga Bermanfaat

Tuesday, 10 April 2012

DOA-DOA KETIKA RUKU’ DAN SUJUD BERDASARKAN HADITS NABI MUHAMMAD



 Tubagus Sukron Tamimi(09421016)[2]
PENDAHULUAN
            Dalam menjalankan suatu ibadah, umat islam harus berpatokan pada yang telah diajarkan oleh Rosulullah SAW. Namun dalam kenyataannya terdapat benyak perselisihan dikalangan umat islam tentang pendapat manakah yang lebih kuat. Karena banyak ulama yang berbeda pandangan dalam melaksanakan suatu ritual ibadah, diantaranya dalam permasalahan bacaan dalam ruku’ dan sujud.
            Banyaknya sumber riwayat tentang bacaan dalam ruku’ dan sujud menyebabkan ulama juga berbeda pandangan dalam bacaan yang sesuai dengan sifat sholat rasul. Dan kadang perbedaan ini menimbulkan keresahan diantara umat yang diantara mereka merasa bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Namun dalam hemat penulis, walaupun bacaan-bacaan ketika ruku’ dan sujud berbeda antara satu golongan dengan golongan lain asalkan mempunyai dasar yang kuat maka haruslah tetap dibenarkan, karena perbedaan dalam islam adalah rahmat selama tidak menyimpang dari ketentuan syariat islam dan kebenaran yang hakiki adalah milik Allah. Dan semoga dengan adanya tulisan ini dapat membantu umat islam untuk lebih memahami dan mendalami ajaran islam sehingga dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan tercipta kerukaunan antara umat islam.
PEMBAHASAN
A.    RUKU’
1.      Tata Cara Ruku
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua lututnya . Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya melakukan yang demikian. Juga memerintahkan orang yang tidak benar sholatnya.
Kedua telapak tangan Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam tampak menekan kedua lututnya (seakan-akan mencengkram keduanya). Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam merenggangkan jari-jarinya. Lalu memerintahkannya kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Jika engkau ruku letakkanlah kedua tangnmu di atas lututumu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu menjadi mapan ditempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya. Ketika ruku Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam membentangkan dan meluruskan punggungnya sampai-sampai jika dituangkan air dari diatasnya tidak akan tumpah, Lalu, Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang tidak benar sholatnya ”Jika engkau ruku, letakkanlah tangamu pada kedua lututmu. Lalu, bentanglah punggungmu dan tekanlah tanganmu dalam rukumu.” (HR Ahmad & Abu Daud).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam tidak membungkuk terlalu kebawah dan tidak pula mendongakkan terlalu keatas. Akan tetapi tengah-tengah di antara keduanya.
2.      Wajib Thumaninah Dalam Ruku
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam dengan thumaninah (tenang) dan memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar sholatnya sebagaimana yang dijelaskan diatas. Sabda Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam ”Sempurnakanlah ruku dan sujudmu. Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya, sesungguhnya aku benar-benar melihat kamu dari balik punggungku saat kamu ruku dan sujud.” (HR Bukhari & Muslim).
Dalam riwayat Ath-Thayalisi dan Ahmad, Abu Hurairah berkata ”Kekasihku Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-nolah seperti musang dan duduk sepeti kera.”
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ”Pencuri yang paling jahat adalah pencurian yang mencuri dalam sholatnya.” Para sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana yang dimaksud dengan mencuri dalam sholat itu?” Rasulullah menjawab ”Yaitu orang yang tidak sempurna ruku dan sujudnya dalam sholat.” (HR Thabrani dan Hakim).
Ketika sedang sholat, Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melirik orang yang sujud dan ruku dengan punggung tidak lurus. Usai sholat Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Wahai kaum muslimin, sesungguhnya tidak sah sholat seseorang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku dan sujud.” (HR Ibnu Majah & Ahmad).
3.      Bacaan-Bacaan Ruku
Beberapa riwayat do’a dalam ruku’:
 Membaca bacaan Subhaana Robbiyal Adzimi tanpa dibatasi bilangan. Sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim dan Ash-haabus Sunan dalam Fiqhus Sunnah:
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فَكَانَ يَقُوْلُ فِى رُكُوْعِهِ: سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ .)رواه مسلم فى فقه السنة :137/1(
Dari Hudzaifah berkata:”Aku sholat bersama Rasulullah saw , ketika ruku’ beliau membaca:
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ
“Maha Suci Allah ,Tuhanku Yang Maha Agung.”(HR Muslim dalam Fiqih Sunnah I:137)

Membaca bacaan tersebut diatas sebanyak tiga kali. Sebagaimana hadits dari
Ibnu Mas’ud ra:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:إِذَا رَكَعَ أَحَدُكُمْ فَقَالَ: سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ ثَلاَثًا فَقَدْ تَمَّ رُكُوْعُهُ ذَلِكَ أَدْنَاهُ. (رواه أبو داود والترمذى وابن ماجه وغيرهم قال أبو داود والترمذى وغيرهما هو منقطع. فى المجموع :4113”(
Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Nabi saw bersabda:”Apabila salah satu di antara kalian ruku’ , kemudian membaca:
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ
Tiga kali, maka telah sempurna ruku’nya. Hal itu paling sedikitnya bacaan yang dibaca ketika ruku’” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan perawi lainya. Abu Dawud, Tirmidzi dan perawi lainnya berpendapat bahwa hadits ini munqithi’)
Mengenai tambahan (وبحمد ) berkata Imam Asy-Syaukany bahwa sanad- sanad haditsnya dhoif tetapi satu dengan yang lainnya saling menguatkan sehingga menjadi hasan lighoirihii dan bisa dipakai. Sebagaimana keterangan berikut:
وَأَمَّا لَفْظُ سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ فَقَدْ جَاءَ مِنْ عِدَّةِ طُرُقٍ كُلُّهَا ضَعِيْفَةٌ . قَالَ الشَّوْكَانِى وَلَكِنْ هَذِهِ الطُّرُقُ تَتَعَاضَدُ)فى فقه السنة :137/(
Adapun lafadz :
ُسبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Banyak riwayat haditsnya, akan tetapi semua haditsnya dhoif (lemah).Imam Asy-Syaukani berkata bahwa riwayat-riwayat yang banyak itu saling menguatkan.” (Dalam Fiqih Sunnah I:137)
عَنْ مُطَّرَفٍ بْنِ عَبْدِ الله بْنِ الشَّخِّيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ نَبَأَتْهُ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ فِى رُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ) رواه مسلم :51/2(
Dari Muthorrif bin Abdullah Asy-Syakhir meriwayatkan bahwa Aisyah ra berkata:”Sesungguhnya Rasulullah saw ketika ruku’ dan sujud membaca:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ
“Maha Suci lagi Maha Bersih, Tuhan para malaikat dan Jibril.”(HR Muslim II:51)”

 Membaca tasbih 10 kali. Sebagaimana keterangan hadits Wahab bin Ma’nus ra :
عَنْ وَهْبٍ بْنِ مَأْنُوْسٍ قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيْدَ بْنِ جُبَيْرٍ يَقُوْلُ :سَمِعْتُ أَنَسَ بْنِ مَالِكٍ يَقُوْلُ: مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ بَعْدَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم أَشْبَهَ صَلاَةٍ بِرَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم مِنْ هَذَا الْفَتَى يَعْنِى عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ , قَالَ فَخَزَرْنَا فِى رُكُوْعِهِ عَشَرَ تَسْبِيْحَاتٍ. وَفِى سُجُوْدِهِ عَشْرَ تَسْبِيْحَاتٍ. رواه أبو داود:234/1
Dari Wahab bin Ma’nus berkata:”Aku mendengar Sa’id bin Jubair berkata:Aku mendengar Anas bin Malik berkata:Aku tidak pernah sholat di belakang seorangpun (sepeninggal Rasulullah saw) yang sholatnya paling mirip dengan Rasulullah saw daripada pemuda ini(Umar bin Abdul Aziz). Sa’id bin Jubair berkata:”Maka kami kira-kirakan waktu ruku’ dan sujudnya sekitar sepuluh kali bacaan tasbih.”(HR Abu Dawud I:234)

Membaca tasbih lamanya sama dengan saat berdiri. Sebagaimana keterangan hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Musnad Imam Ahmad Jilid III halaman 192.
- Atau membaca bacaan tasbih yang tidak dibatasi jumlahnya dalam ruku’ dan sujud
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّـنَا وَبِحَمْدِكَ أَللَّهُمَّ اغْفِرْلِي.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُُّ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ فِى رُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى. رواه البخاري :207/
Dari Aisyah ra berkata:”Adalah Nabi saw ketika ruku’ dan sujud membaca bacaan:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى
“Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami , segala puji hanya bagi-Mu, maka ampunilah aku.”( HR Bukhari I:207)
B.     SUJUD
1.      Tata Cara Sujud Berdasarkan Hadits Nabi Muhammad
Setelah i’tidal Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan turun bersujud. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan yang demikian ini kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Tidaklah sempurna sholat seseorang sampai ia mengucapkan ’Sami’ Alloohu liman hamidah’ sampai tegak berdiri. Kemudian mengucapkan takbir, lalu bersujud sampai ruas tulang belakangnya kembali sempuran.” (HR Abu Daud & Hakim).
Dalam hadits riwayat Abu Ya’la dan Ibnu Khuzaimah disebutkan bahwa jika hendak sujud, Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan takbir (dan Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam merenggangkan tangannya dari lambungnya), lalu bersujud. Sedangkan dalam riwayat Nasa’i dan Daruquthni disebutkan bahwa kadang Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tanganya bila hendak bersujud.
2.      Doa-doa Sujud
Di antara do’a-do’a sujud berdasarkan hadits nabi adalah ;
a).. سُبْحَانَكَ أللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ أللَّهُمَّ اغْفِرْلِى
Diriwayatkan Oleh Imam Bukhari ;

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَكْثِرُ أَنْ يَقُوْلَ فِى رُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ :سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى)رواه البخاري ,فى فقه السنة:141/1(

Dari Aisyah ra bahwa Nabi SAW memperbanyak membaca dalam ruku dan sujud, “ Maha suci Engkau ya Alloh. dengan memujiMu ya Alloh ampunilah daku “ ( HR Bukhori )

b). سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ .

Sebagaimana dalam hadits:

عَنْ مُطَرَّفِ بْنِ عَبْدِ الله بْنِ الشُّخَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ نَبَأَتْهُ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ فِى رُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ : سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ)رواه مسلم :51/2([3]
Dari Muthorrof bin Abdillah bin Syukher sesungguhnya Aisyah memberinya kabar bahwa Rosululloh SAW berdo’a dalam ruku’ dan sujud : “ Maha suci, Maha Bersih Tuhan malaikat dan Jibril “ HR Muslim.
c).Boleh membaca
رَبِّ أَعْطِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكَّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
Sebagaimana dalam hadits:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا فَقَدَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مِنْ مَضْجَعِهِ فَلَمَسَتْهُ بِيَدِهَا فَوَقَعَتْ عَلَيْهِ وَهُوَ سَاجِدٌ وَهُوَ يَقُوْلُ :رَبِّ أَعْطِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكَّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا)رواه أحمد فى فقه السنة :141/1(
Dari Aisyah ra bahwa ia kehilangan Nabi SAW dari tempat tidurnya. Ia lalu mencari Nabi dengan tangannya dan mendapatkan Beliau sedang sujud dan berdo’a, “ Ya Alloh berikan diriku ketaqwaannya dan bersihkanlah ia karena Engkau sebaik – baik Dzat yang membersihkannya. Engkau walinya dan tuannya “ HR Ahmad.
d).Boleh membaca
أللَّهُمَّ اغْفِرْلِى ذَنْبِى كُلَّهُ دِقَّهُ وَجُلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَأَخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ
Sebagaimana dalam hadits berikut;
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ فِى سُجُوْدِهِ :اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى ذَنْبِى كُلَّهُ دِقَّهُ وَجُلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَأَخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ)رواه مسلم فى فقه السنة :141/1(
Dari Abu Huroiroh ra sesungguhnya Nabi SAW berdo’a dalam sujud, “ Ya Alloh ampunilah dosaku seluruhnya; yang sedikit dan banyak, yang awal dan akhir dan yang menampak atau yang tersembunyi “ HR Muslim.
e). Boleh membaca
أللَّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُوْرًا وَفِى سَمْعِى نُوْرًا وَفِى بَصَرِى نُوْرًا وَعَنْ يَمِيْنِى نُوْرًا وَتَحْتِى نُوْرًا وَاجْعَلْنِى نُوْرًا
Sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim dan Ahmad;
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا يَصِفُ صَلاَةَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فِى التَّهَجُّدِ قَالَ:ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ فَصَلَّى وَجَعَلَ يَقُوْلُ فِي صَلاَتِهِ أَوْ فِي سُجُوْدِهِ: اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُوْرًا وَفِى سَمْعِى نُوْرًا وَفِى بَصَرِى نُوْرًا وَعَنْ يَمِيْنِى نُوْرًا وَتَحْتِى نُوْرًا وَاجْعَلْنِى نُوْرًا, قَالَ شُعْبَةُ : أَوْ قَالَ اجْعَلْ لِى نُوْرًا)رواه مسلم فى فقه السنة :141/1(

Dari Ibnu Abbas ra yang menyebutkan tentang sholat Rosululloh SAW dalam tahajjud. Ia berkata: “ Kemudian Beliau keluar untuk sholat. Beliau lalu sholat dan dalam sholat itu / sujud itu Beliau berdo’a, “ Ya Alloh jadikan cahaya di hatiku, cahaya di telingaku, cahaya di mataku, cahaya di kananku, cahaya di bawahku, dan jadikanlah saya cahaya “ HR Muslim.
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Sebagai umat islam,kita harus menghargai perbedaan karena perbedaan adalah rahmat asalkan perbedaan itu tidak menyimpang dari ajaran islam atau syariat islam serta memiliki alasan atau argumen yang jelas. Tiap-tiap golongan berhak untuk berijtihad dan mencari kebenaran dan tidaklah laik bila suatu kelompok menjelek-jelekkan kelompok yang lain ddan memaksakan pendapatnya agar diikuti oleh orang lain.



B. Daftar Pustaka
Al-Hafid  al-Suyuthi,jalaluddin, Syarah Sunan an-Nasa’i, (Kairo : Dar al-Hadits, 1978)
Sunan Abu Dawud, (Bairut : Dar al-Fikr, 1978)
Shahih Bukhari,(Kairo: Dar al- Hadits,1978)
Shahih Muslim,(Bairut: Dar al-Fikri,1977)
file:///G:/rukuk/mengagungkan-allah-dalam-ruku.html


[1] Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah fiqh berbasis IT yang diampu oleh Drs. Sofwan  Jannah. M.Ag
[2] Mahasiswa Program Studi Hukum Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia angkatan 2009
[3]  Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Shahih Muslim, Jilid I, (Bairut : Dar al-Fikr, 1992), hal. 222

3 comments:

This comment has been removed by the author.

Maaf, Apa yg dimaksud dgn perbedaan adalah rahmat ?
Rahmat apa bencana ???
Coba baca ini dulu : http://asysyariah.com/perbedaan-adalah-rahmat.html

Sebelumnya harus dapat membedakan antara perbedaan(Ikhtilaf)dan Penyimpangan(Ikhtiraf).Kalau Ikhtilaf,dalam berpendapat dan berkeyakinan, dia memiliki dasar yang kuat baik dr al-qur'an, Sunnah maupun masdarus syariah lainnya.Inilah yang disebut sebagai rahmat,berbeda pendapat dan pandangan tapi tetap sesuai dengan yang diinginkan oleh islam.
Kaitannya dengan tulisan di http://asysyariah.com/perbedaan-adalah-rahmat.html yg menyebutkan bahwa hadis tentang ikhtilaf rahmat itu adalah hadis munqoti', namun masih dapat diterimaadapun dalil yang mengatakan bahwa yg dirahmati oleh allah adalah yang tidak berselisih memang cukup argumentatif,tetapi dalil yang dikemukakan lebih dalam masalah aqidah. Kalau aqidah,memang kita tidak dapat berbeda dan berselisih kerna dapat mendatangkan kehancuran seperti umat terdahulu. Sedangkan perbedaan yg dimaksuda dalam hadis ini adalah berkaitan dengan fiqh dan sosial masyarakat bukan aqidah.

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites